Pesawaran,- Peta Jurnalis. Di tengah semangat dunia pendidikan yang terus digalakkan, masih ada sudut-sudut negeri ini yang seakan tak tersentuh perhatian pemerintah. Salah satu potret pilu tersebut tergambar jelas di UPTD SDN 22 Wayrati, yang berlokasi di Desa Kalirejo, Kecamatan Wayratai, Kabupaten Pesawaran.
Sekolah dasar yang memiliki 73 siswa ini nyaris tak merepresentasikan wajah pendidikan yang ideal. Halaman sekolah yang seharusnya menjadi tempat bermain yang aman bagi anak-anak, justru berubah menjadi kubangan becek saat musim hujan tiba. Selokan pembuangan air yang tidak memadai membuat genangan air tak tertampung, menjadikan lingkungan sekolah tak hanya tidak nyaman, tapi juga berpotensi mengancam kesehatan.

Lebih parah lagi, bangunan sekolah pun berdampingan langsung dengan tanggul yang perlahan terkikis derasnya aliran air saat hujan. Tidak adanya penahan tanah membuat situasi ini amat membahayakan keselamatan siswa dan guru. Seakan sekolah ini hanya menunggu waktu sebelum bencana terjadi.
“Saya dan dewan guru terpaksa gotong royong memperlebar selokan agar air bisa mengalir lebih efektif,” ungkap Asriyansah, Kepala SDN 22 Wayrati, dengan nada prihatin.
Kondisi ini bukan baru terjadi kemarin sore. Menurut informasi dari masyarakat dan pantauan media, kondisi mengenaskan ini sudah berlangsung hampir satu dekade. Kepala sekolah silih berganti, namun wajah SDN 22 Wayrati tetap sama: kumuh, becek, dan rawan bahaya.
Pada Jumat, 25 Juli 2025, LSM GIP yang diwakili oleh Yudi bersama awak media melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Hasilnya? Sangat memprihatinkan. Tidak hanya pada aspek lingkungan dan fasilitas, tetapi juga dampaknya pada minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sana.
“Bayangkan saja, tahun ini hanya lima siswa baru yang mendaftar. Orang tua takut menyekolahkan anaknya karena kondisi sekolah yang tidak layak dan membahayakan,” imbuh Asriyansah.
Bangunan tua yang tak lagi layak pakai pun masih berdiri di area sekolah. Alih-alih direnovasi dan dimanfaatkan secara maksimal sebagai ruang multifungsi, bangunan tersebut hanya menjadi saksi bisu dari ketidakpedulian yang sudah terlalu lama dibiarkan.
Saat ini, SDN 22 Wayrati hanya ditopang oleh 5 guru PNS dan 6 guru honorer. Mereka adalah garda terdepan yang tetap berjuang mencerdaskan anak bangsa di tengah keterbatasan.
- Advertisement -
Pertanyaannya, sampai kapan sekolah ini harus bertahan dalam kondisi seperti ini? Di tengah gembar-gembor pemerataan kualitas pendidikan, mengapa SDN 22 Wayrati seolah luput dari perhatian Dinas Pendidikan Kabupaten Pesawaran?
Kepala sekolah, para guru, dan masyarakat Kalirejo berharap suara mereka tidak lagi dianggap angin lalu. Mereka tidak meminta fasilitas mewah, hanya sekolah yang layak dan aman bagi anak-anak mereka untuk belajar.
Pendidikan adalah hak semua anak bangsa. Dan saat sebuah sekolah seperti SDN 22 Wayrati masih tertatih dalam bayang-bayang kelalaian, maka itu adalah alarm keras bahwa masih ada pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah untuk menyelamatkan masa depan generasi kecil di pelosok negeri ini.
Laporan: Carles – Peta Jurnalis



