BANDA ACEH, 12 September 2026 — Transformasi digital dan kemajuan teknologi kedokteran menjadi kunci utama pengembangan pendidikan sekaligus pelayanan bedah di Indonesia masa depan. Pemanfaatan telekedokteran, telebimbingan, realitas maya (virtual reality), simulasi pembelajaran, bedah laparoskopi, hingga bedah robotik dinilai mampu meningkatkan kualitas pendidikan, menyempurnakan keterampilan dokter, serta menghadirkan pelayanan bedah yang lebih presisi, aman, terintegrasi, dan berorientasi sepenuhnya pada keselamatan pasien.
Hal tersebut menjadi pokok bahasan utama dalam Sesi 8, Pertemuan Besar Bedah XXIII PABI 2026, bertajuk “Digitalisasi dan Teknologi Masa Depan dalam Edukasi serta Layanan Bedah”, yang berlangsung di Banda Aceh. Sesi yang dipimpin moderator Dr. dr. Nizar, Sp.B-ET, FINACS, FICS ini menghadirkan tiga pembicara utama yang mengupas tuntas perkembangan teknologi bedah dari sisi pendidikan, penerapan bedah robotik, hingga pengalaman pengembangan bedah laparoskopi di rumah sakit tipe B dan C di daerah.
Telekedokteran dan Realitas Maya: Menjembatani Kesenjangan Akses
Prof. Dr. dr. Reno Rudiman, MSc, Sp.B-ET, Subsp.BD(K), FICS, FCSI, dalam paparannya menyoroti pemanfaatan telekedokteran dan telebimbingan sebagai sarana pembelajaran jarak jauh sekaligus pengembangan pendidikan bedah generasi mendatang. Menurutnya, teknologi ini sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki tantangan geografis sebagai negara kepulauan.
“Telekedokteran memungkinkan komunikasi dan konsultasi antar-tenaga medis tanpa terhalang jarak. Sementara itu, telebimbingan memungkinkan dokter di daerah mendapat pendampingan dan arahan langsung dari pusat rujukan, sehingga kualitas pelayanan tetap terjaga meski berada jauh dari pusat pendidikan.”
- Advertisement -
Di bidang pendidikan, penggunaan realitas maya dan simulasi memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berlatih dalam lingkungan yang terkendali. Kompetensi teknis dinilai lebih objektif sebelum diterapkan langsung kepada pasien, sehingga proses pendidikan berjalan lebih aman, terukur, dan bebas risiko bagi pasien.
Bedah Robotik: Peluang dan Tantangan di Indonesia
- Advertisement -
Dr. dr. Etrawan Ramawitan Wiradisuia, Sp.B-ET, Subsp.BD(K), mengangkat tema masa depan bedah robotik di Indonesia. Teknologi ini dinilai membuka peluang besar meningkatkan presisi tindakan medis, mendukung teknik tindakan yang lebih minim invasif, serta meningkatkan kemampuan operator dalam melakukan prosedur yang rumit.
Namun demikian, pengembangan bedah robotik tidak hanya membutuhkan perangkat canggih semata, melainkan juga kesiapan sumber daya manusia, investasi berkelanjutan, pemeliharaan peralatan, serta standar kompetensi tenaga medis yang mengoperasikannya. Tanpa kesiapan menyeluruh, teknologi canggih belum tentu dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat luas.
Laparoskopi di Daerah: Teknologi Tidak Boleh Terpusat di Besar Saja
Dr. Nasrul Haidi, Sp.B-ET, Subsp.BD(K), FINACS, memaparkan pengalaman pengembangan bedah laparoskopi di Rumah Sakit Tipe B dan C. Hasil pemaparan menunjukkan bahwa kemajuan teknologi bedah tidak selayaknya hanya terkonsentrasi di rumah sakit besar dan pusat pendidikan, melainkan harus dapat diperluas hingga fasilitas kesehatan di daerah.
Pengembangan laparoskopi di daerah menuntut kesiapan kompetensi dokter bedah, ketersediaan ruang operasi dan peralatan, sistem pemeliharaan, serta dukungan manajemen rumah sakit dan sistem pembinaan berkelanjutan. Jika terbangun dengan baik, masyarakat di daerah dapat memperoleh pelayanan bedah minimal invasif yang berkualitas tanpa harus dirujuk jauh ke pusat pelayanan kesehatan.
Digitalisasi Bukan Sekadar Alat, Melainkan Perubahan Sistem
Diskusi dalam sesi ini menegaskan bahwa digitalisasi dunia bedah bukan sekadar mengganti alat konvensional dengan yang modern, melainkan menyangkut perubahan menyeluruh: sistem pendidikan, kolaborasi antarpihak, tata kelola layanan, hingga cara kompetensi seorang ahli bedah dibangun dan dipertahankan.
Telekedokteran, telebimbingan, realitas maya, simulasi, laparoskopi, hingga bedah robotik membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperluas akses pelayanan bedah modern ke berbagai pelosok negeri.
Kesimpulan: Teknologi Harus Tetap Berorientasi pada Keselamatan Pasien
Para pembicara sepakat bahwa teknologi hanyalah instrumen, bukan tujuan akhir. Keberhasilan transformasi digital di dunia bedah tidak ditentukan oleh kecanggihan alat semata, melainkan oleh kemampuan tenaga medis menggunakannya secara kompeten, bertanggung jawab, dan tetap mengutamakan keselamatan pasien.
“Teknologi masa depan harus menjadikan pendidikan bedah lebih aman dan terstruktur, serta menjadikan pelayanan bedah lebih presisi, efektif, dan berorientasi pada pasien. Keunggulan teknologi tidak akan bermakna tanpa peningkatan kompetensi, penguatan standar profesi, kesiapan fasilitas, dan tata kelola pelayanan yang baik.”
Oleh karena itu, kemajuan teknologi bedah harus berjalan beriringan dengan peningkatan mutu sumber daya manusia, penyamaan standar kompetensi, serta pemerataan kesiapan fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Teknologi adalah sarana, sedangkan kompetensi, etika, dan keselamatan pasien tetap menjadi fondasi utama pelayanan bedah di masa depan.
(red/Ine)


