Jakarta, petajurnalis.co.id – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M, kalangan masyarakat yang tinggal diberbagai kota besar di Indonesia berbondong-bondong pulang kembali ke kampung halaman masing-masing. Tradisi ini sudah dilakukan beberapa puluh tahun yang lalu dan masih berlaku hingga saat ini. Pulang kampung atau mudik dilakukan dalam rangka menjenguk orangtua dan bersilaturahmi dengan sanak, saudara dan kerabat atau keluarga besar di kampung halaman, Kamis (19/3/2026).
Mudik menjadi padanan kata atau frase pulang kampung. Dalam bahasa Betawi “mudik” berarti kembali ke udik (desa/kampung) atau hulu sungai. Mudik berarti melakukan perjalanan ke udik. Kebalikan dari “madık” adalah “milir” yang memiliki arti pergi ke hilir atau ke kota. Makna secara harafiah (jaman dahulu) pergi berarti pergi berlayar ke hulu sungai (sebagai lawan kata “milir” atau pergi ke hilir). Pada perkembangannya dalam konteks sosial “mudik” menjadi ungkapan dan tradisi perantau dari Jakarta pulang ke kampung halamannya. Masyarakat Betawi menyebut orang yang kembali ke kampung dengan sebutan “mudik” menuju ke udik atau melakukan perjalanan pulang ke udik.
Lebaran bukan berasal dari bahasa Arab atau Timur Tengah. Lebaran adalah sebutan khas Indonesia untuk hari raya Idul Fitri (1 Syawal) yang menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadan, namun lebaran berasal dari bahasa Jawa yang berarti bubar atau selesai. Secara harafiah “lebar” dimaknai sebagai sesuatu yang sudah tuntas atau selesai. Lebaran sering dikaitkan dengan lebar (yang berarti lapang dada), luber (melimpahnya pahala/rezeki), dan lebur (melebur dosa) dan labur (cat). Lebaran sebagai momen refleksi diri, silaturahmi, dan kembali ke fitri (makan dan minum) setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Secara Filosofi “lebaran” dalam kebudayaan atau tradisi Jawa memiliki empat (4) makna sekaligus yaitu,
1. Lebaran
- Advertisement -
Memiliki kata dasar “lebar” berarti bubar selesai atau rampung, artinya sudah merampungkan kewajiban melaksanakan perintah Allah yaitu perintah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh (QS. Al-Baqoroh Ayat 83) yang berbunyi:
بابها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
- Advertisement -
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Kata “lebar” juga diartikan lapang dada atau memiliki sifat kesabaran atau
memiliki hati seluas samudera Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar Ayat 10 yang berbunyi:
قُلْ يُعِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمُ لِلذين أحسنوا في هذه الدنيا حسنةٌ وَأَرْضَ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الميرون أَجْرَهُم بغير حساب .
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan”.
2. Luberan
Memiliki dasar kata “luber” memiliki arti berlebih (meluber atau melimpah), hal ini merupakan simbol bahwa Hara Raya Idul Fitri Allah Subhanahu lahu wa Ta’ala memberikan rizki yang meluber atau melimpah dan tak terhitung agar kita bisa berbagi dengan sesame. Hal ini menimbulkan sifat dimana seseorang memiliki kepedulian dengan orang lain. Sehingga kehidupan yang akan datang bisa saling berbagi dan membantu sesama (QS Al-Maidah Ayat 2) yang berbunyi:
وَتَعَاوَلُوا على البر والتَّقْوَى وَلا تَعَاوَلُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيد …. العقاب
Artinya. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.
3. Laburan
Memiliki kata dasar “lobur” yang berarti (cat), laburan adalah melakukan pengecatan rumah atau di labur (di cat dengan warna putih) merupakan simbol penyucian diri. Bahwa bulan Ramadan merupakan bulan untuk membersihkan diri/jiwa (Tazkiyatun Nafs).
Tazkiyatun Nafs adalah proses penyucian jiwa dan pembersihan hati dari sifat-sifat tercela (penyakit hati) serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini merupakan perjalanan seumur hidup yang melibatkan ibadah, zikir, dan pengenalan diri, sehingga mencapai ketenangan hati (jiwa mutmainah). Tahapan dalam tazkiyatun Nafs adalah sebagai berikut:
a. Takhalli:Membersihkan hati dari maksiat, baik lahir maupun batin
b. Tahalli: Mengisi jiwa dengan ketaatan, sifat terpuji (ikhlas, sabar,
syukur, taubat), dan ibadah (shalat, puasa, zikir).
c. Tajalli: Terungkapnya nur (cahaya) ketuhanan dalam hati yang bersih.
Hari Idul Fitri kita semua memiliki hati yang tulus untuk membersihkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu menjalankan perintah-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS. Asy-Syams ayat 9 yang berbunyi:
قد أفلح من زكنها
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)”
4. Leburan
Memiliki kata dasar “lebur” yang berarti (hancur/melebur), artinya leburkan dosa-dosa. Hancurkan dosa-dosa dengan saling memaafkan meminta maaf pada orangtua, sanak, keluarga dan kerabat beserta handai taulan semua. Sehingga hari Raya Idul Fitri kita benar-benar dalam suasana kebatinan yang akrab karena sudah saling memaafkan. Firman Allah dalam QS Asy-Syura ayat 40 yang berbunyi:
وجروا سينة سيئة مثلها فمن عفا وأصلح فاخرة على اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّلِمِينَ
Artinya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” (QS. Asy-Syura: 40)
Demikianlah makna lebaran yang merupakan hari kemenangan bagi umat muslim atau kaum muslimin yang sudah mengawali dengan menjalankan ibadah saum atau puasa dibulan Ramadan selam sebulan penuh. Selanjutnya dalam hitungan jam akan terdengar alunan takbir menggema di seluruh pelosok negri pertanda di hari kemenangan telah tiba. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan Rahmat, taufik dan hidayah untuk kita semua kita golongan orang-orang yang istiqomah di jalan Allah. Aamin Yaa Rabbal Alaamiin.
Waalaikum Salam Wr Wb
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL1447 H/MARET 2026
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Disarikan dari berbagai Sumber (Penulis Dewan Penasehat Dinamika Jurnalis Progresif DKI Jakarta/pimred Peta Jurnalis.co.id).



