Tambang Emas Ilegal Cemari Sungai Batang Ngai, Warga Batang Asai Terancam Krisis Air Bersih
SAROLANGUN, Petajurnalis.co.id – Aktivitas penambangan ilegal Peti di Kecamatan Batang Asai, Desa Muara Pemuat, telah menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan sosial masyarakat sekitar, bahkan membuat sebagian warga merencanakan tindakan anarkis seperti membakar alat berat excavator yang digunakan untuk pengerukan tambang. Informasi ini diperoleh awak media yang melakukan peninjauan langsung ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada 6 Februari 2026.
Beberapa warga dari Desa Muara Pemuat dan Desa Muara Cuban mengeluhkan kondisi sungai yang semakin memburuk akibat aktivitas tersebut. Iin Chadra, salah satu warga Desa Muara Cuban, menyampaikan bahwa sungai yang selama ini menjadi sumber air utama bagi kebutuhan sehari-hari kini tidak layak pakai.
“Kami sangat membutuhkan air sungai kami. Sekarang ada penambang ilegal, mau cari air yang layak konsumsi dimana lagi? Kami tahu air kami bukan saja keruh tapi juga sudah tercampur dengan bahan kimia yang mematikan seperti air raksa,” ungkapnya. Air sungai tersebut digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan, mulai dari minum, mencuci beras, mencuci pakaian, hingga mandi.
Selain sebagai sumber air konsumsi, Sungai Batang Ngai juga menjadi dasar pengembangan pariwisata yang dikelola langsung oleh masyarakat. Di kawasan yang dikunjungi awak media terdapat beberapa objek wisata, antara lain Wisata Pemandian Jernih Telun Mombung, Wisata Pemandian Jernih Telun Pauh, dan Wisata Pemandian Jernih Telun Beringin.

Edi S Latief, pengurus pengelola wisata sekaligus aktivis lingkungan dari Desa Muara Cuban, sangat menyayangkan aktivitas penambangan ilegal di perairan Sungai Batang Ngai maupun Sungai Batang Asai. “Kami juga sudah melaporkan hal tersebut melalui media Facebook agar aparat penegak hukum bisa menindaklanjuti. Dengan adanya wisata ini bukan saja ekonomi masyarakat yang berdampak tapi juga anak-anak yang menganggur bisa bekerja. Jika ini dihancurkan, kami sangat mengutuk bagi penambang maupun aparat yang membiarkan,” katanya.
Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia, Andi Mulyati SE dari Jakarta, yang dihubungi setelah peninjauan lapangan, menyampaikan dukungannya kepada masyarakat dan akan memberikan dorongan kepada aparat penegak hukum di Kabupaten Sarolangun. Ia menyoroti kurangnya kepekaan aparat terhadap aktivitas ilegal tersebut. “Apa jangan-jangan aparat disana juga dapat bagian ya?” ujarnya secara tegas.
Andi Mulyati menambahkan bahwa permasalahan ini akan dia bawa ke berbagai instansi terkait, termasuk Kapolri, Menteri ESDM, hingga ke meja Presiden Republik Indonesia. “Saya sangat apresiasi dengan warga desa tersebut karena sudah berbuat dengan mendirikan tempat-tempat wisata, bukan saja berdampak kemajuan ekonomi tapi juga bisa melindungi sungai dari penambangan ilegal,” pungkasnya.
(*red Triwahyudi)



